My New Blog

PhotoGrid_1514436091458

www.qonitatku.com

Iklan

Merajut Hati Bening dengan Nasi Kuning

PhotoGrid_1510003741230

Tanpamu duhai Kanda, aku bagaikan nasi kuning tanpa lauknya 😀

Sebuah quote yang menurut saya bikin baper sekaligus laper, hihi. Sebenarnya ini hanya sebuah catatan ringan tentang aktivitas dapur yang akhirnya dirasakan oleh para tetangga. Sekotak nasi kuning komplit mendarat dengan manis di rumah-rumah terdekat sekitar saya pada suatu sore, beberapa hari yang lalu. Ada sedikit rezeki, maka berbagi makanan adalah salah satu jalan untuk menebar kegembiraan.

Berawal dari Tumpeng

Memasak nasi kuning memang masih menjadi sebuah kebiasaan di daerah saya. Biasanya mereka ingin menyatakan sebuah rasa syukur melalui sebuah simbol. Sejak saya kecil, ayah saya sering membawakan nasi kuning jika pulang dari undangan kenduri. Nasi kuning tersebut  berawal dari tumpeng yang meletus 😀 Tumpeng yang tinggi itu akan ‘dirobohkan’ dan dibagi rata kepada seluruh undangan yang hadir, berikut lauk-pauknya. Biasanya ada sambal goreng kering teri, ayam ingkung, telur bali, urap sayur, sambal, dan mentimun. Saya dan adik-adik pun berlomba makan nasi kuning kenduri itu dengan lahap. Jatah nasi kuningnya tentu saja sedikit-sedikit, tapi seru!

Ah, jadi teringat almarhum ayah yang sering nembang atau menyanyi dalam bahasa Jawa. Ada tembang Jawa yang berupa tebak-tebakan yang jawabannya adalah tumpeng. Seingat saya, kata-katanya seperti ini:

Ana gunung ganas tumumpang sesek winengku
Rinubung sarining gegodhongan lan kekembangan
Ana ceplok saloka lan emas mung nyeparo

Artinya kira-kira begini:

Ada gunung yang tidak tahan lama (karena segera dibagi-bagikan dan dimakan) yang diletakkan di atas nampan terbuat dari bambu
Ia dikelilingi banyak daun dan bunga-bunga (sayur-sayuran dan aneka warna lauk-pauk)
Ada irisan telur yang tengahnya seperti warna emas

thumb_5654_article_image_383x254

source: sahabatnestle.co.id

Filosofi Tumpeng

Tumpeng yang dinobatkan sebagai salah satu dari 30 ikon kuliner Indonesia sejak tahun 2013 oleh Kemenparenkraf ini banyak menyimpan filosofi. Bagi saya sendiri, tak ada salahnya belajar dari pesan kebaikan yang ‘disampaikan’ oleh si  tumpeng. Walaupun di luar sana saya dapati ada yang berpendapat begini: Islam tidak butuh filosofi-filosofi semacam itu! Yaa, silakan saja. Bagi saya, filosofi yang biasanya berisi nasihat kebaikan tak ada salahnya kok dibaca dan dibenarkan jika memang isinya benar secara universal.

Nah, kata tumpeng berasal dari kalimat “Yen Metu Kudu Mempeng” yang disingkat. Artinya adalah jika kita keluar (untuk bekerja atau berusaha) harus bersungguh-sungguh. Tidak jauh berbeda dengan pepatah Arab, Man jadda wajada, bukan? Lalu bentuknya yang kerucut meninggi itu mengingatkan akan konsep ketuhanan yang tinggi. Agar saat kita memperoleh karunia, kita tetap ingat darimana anugerah itu kita peroleh. Mengerucut bisa juga sebuah nasihat untuk manusia agar berusaha keras menuju puncak (kesuksesan). Biasanya, bagian puncak tumpeng ini akan dipotong dan diberikan kepada tokoh yang dihormati.

Filosofi tentang lauk pauk tumpeng banyak sekali. Monggo disimak di sini saja 😀 Karena yang sebenarnya ingin saya ceritakan kan nasi kuningnya. Yang jelas Islam melarang jika tumpeng dimaksudkan untuk sebuah ritual sesajen, persembahan, dan yang semacamnya. Saya kira ini cukup jelas.

Nasi Kuning yang Tidak Lagi Asing

Setelah saya dewasa dan seperti yang kita ketahui sekarang ini, nasi kuning tidak selalu berasal dari tumpeng. Kita bisa dengan mudah menjumpainya dijual sebagai menu sarapan sehari-hari yang dikemas di dalam kotak mika. Para pengusaha katering pun biasa menjadikan nasi kuning sebagai menu andalan mereka. Saat si kakak diundang ke rumah temannya pun, nasi kuning biasa ia santap di sana. Maka ia tersaji tidak saja karena tradisi, tapi juga karena faktor rasa nasi kuning yang pastinya lebih gurih dari nasi biasa.

PhotoGrid_1510004046637

Itulah yang akhirnya menjadi alasan saya untuk memilih nasi kuning sebagai sarana berbagi. Berasa lebih istimewa, gitu. Memang ini tidak persis dengan hadits nabi tentang berbagi makanan ke tetangga dengan masakan berkuah, tapi esensinya berusaha meniru itu. Bahkan jika yang kita punya hanyalah beberapa potong roti tapi kita berniat berbagi, mengapa tidak? Wallahu a’lam.

Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai Abu Dzarr, jika engkau memasak masakan berkuah, maka perbanyaklah kuahnya dan perhatikanlah tetanggamu.” (HR Muslim)

 

Salam cinta tetangga,

Tatiek Purwanti

 

Dua Kebahagiaan di Akhir Bulan

PhotoGrid_1509450878235

For the first time in forever.

There’ll be magic, there’ll be fun!

Awal bulan lalu meniatkan diri untuk menulis secara full di blog setiap hari. Program One Day One Post-nya Blogger Muslimah Indonesia begitu menggoda hati. Seperti yang sudah saya kisahkan sebelumnya pada 15 Hari Mencari Cinta pada One Day One Post.

Pada hari ini, tanggal 31 Oktober 2017, niat itu akhirnya terealisasi. Alhamdulillah… Untuk pertama kalinya dalam sejarah blog saya, ada tiga puluh postingan beruntun tanpa jeda. 😊

Tentu saja sebenarnya itu bukan murni atas kemampuan saya semata. Ada karunia Allah Ta’ala berupa kesehatan dan kesempatan yang membuat saya bisa menuangkan isi pikiran ke dalam tulisan. Ada juga peran suami, ibunda saya, juga si kakak yang membantu menjaga si kecil. Ya, untuk seorang emak dengan batita berusia empat belas bulan, rasanya akan sulit nge-blog setiap hari tanpa bantuan dan dukungan. Sementara rutinitas rumah tangga juga seakan tiada habisnya. Alhamdulillah, segala puji bagi-Nya. Peluk cium untuk orang-orang di atas dengan sepenuh cinta.

Maka, menyelesaikan ODOP itu saya sebut sebagai kebahagiaan saya yang pertama di akhir bulan ini. Bagi orang lain mungkin tidak berarti, tapi sungguh bermakna untuk saya sendiri. Karena tiga puluh postingan itu saya selesaikan dengan berbagai kisah di baliknya. Salah satu contohnya adalah saya hampir mengambil satu jatah libur pada hari ke-12. Saat itu akhir pekan, ada kesibukan yang menyulitkan saya memegang gadget. Ditambah lagi si kecil maunya nempel terus dan saat ia sudah tidur saya pun tepar.

Hari Ahadnya kami harus pergi sekeluarga dan saya baru menemukan ide pada detik-detik terakhir menjelang berangkat. Saat itu tukang sampah lewat, maka terciptalah [Fiksi Mini] Menunggumu ini. Karena jumlah katanya sudah mencapai 328, saya simpan dulu draft-nya di google doc. Saya berniat mem-publish-nya saat rehat di perjalanan nanti. Ternyata sinyal sedang tidak bersahabat saat rehat di perjalanan tiba. Saya baru bisa mem-publish tulisan tersebut menjelang pukul dua belas siang. Fiuhh… Alhamdulillah.

Lalu apa dong kebahagiaan saya yang kedua? Seperti kebahagiaan di atas yang mungkin terkesan sederhana, maka yang ini pun juga. Buah Mangga di depan rumah sudah berbuah lebat dan bisa di-download, hehe. Biasanya si Mangga Manalagi memang bisa mulai kami nikmati di awal November. Tahun ini si pohon berbuah lebih lebat daripada tahun lalu. Alhamdulillah, saya tidak perlu membeli mangga di pasar jika ingin membuat jus mangga kesukaan kakak dan si adek.

PhotoGrid_1509447855655.jpg

By the way, tentang kata ‘dua’, saya baru tersadar bahwa pernah empat kali menggunakan kata itu sebagai judul artikel selama mengikuti ODOP. Ini dia judul-judulnya:

Dua Kerat Puisi Tentang Jumat

2 Buku Komik Anak yang Berbicara tentang Santri

Duduk Manis di Dua Kelas Menulis (1)

Duduk Manis di Dua Kelas Menulis (2)

Bila dijumlahkan dengan judul yang sekarang, jadi lima, deh. Entahlah kenapa saya seperti terobsesi dengan kata ‘dua’. Mungkin karena anak saya ada dua orang 😁

Akhirnya saya ucapkan terima kasih untuk Uni Novia Syahidah Rais, Mbak Anggarani Citra sebagai Ibu PJ ODOP,  seluruh kru Blogger Muslimah Indonesia serta teman-teman blogger kece yang meramaikan keseruan selama sebulan. Jazaakumullahu khairan katsira.

Salam sayang,

Tatiek Purwanti

⚪⚫⚪⚫⚪⚫⚪⚫

#ODOPOKT30

Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah Indonesia

 

Duduk Manis di Dua Kelas Menulis (2)

PhotoGrid_1509407512682

Pada tulisan yang pertama, saya mengulas tentang kelas menulis artikel secara online. Di bagian kedua ini kelas menulisnya pun juga online yaitu kelas menulis cerita anak. Sebuah kelas menulis yang mempelajari tentang genre cerita anak dengan segmen pembaca anak-anak. Saya merasa wajib juga untuk menguasainya. Pastinya lebih istimewa jika seorang ibu tidak hanya membacakan cerita untuk anaknya, tapi juga bisa menuliskan sendiri ceritanya.

2. Kelas Menulis Cerita Anak

Kelas menulis cerita anak ini diselenggarakan oleh Wonderland Creative, sebuah wadah pelatihan menulis online yang mengkhususkan diri pada cerita anak. Owner sekaligus mentornya adalah Uni Wulan Mulya Pratiwi. Wonderland Creative bertujuan membawa peserta trainingnya untuk bisa menerbitkan karyanya di penerbit mayor, sekaligus mendirikan self publishing. Keren, bukan? Maka saat info trainingnya melintas di newsfeed facebook, saya pun berminat mengikuti. Sang owner yang ramah itu pun meng-inbox saya dan menjelaskan terkait kelas menulis tersebut dengan senang hati.

FB_IMG_1509383882354

Icon Wonderland Creative

Kelas menulis ini juga diadakan di grup facebook secara tertutup, seperti kelas menulis artikel sebelumnya. Biaya untuk mengikuti kelas ini sebesar 150 ribu rupiah. Cukup murah menurut saya jika merujuk pada tujuan Wonderland Creative seperti di atas. Kelas yang saya masuki ini adalah batch kedua, jadi sudah ada para senior yang sudah lulus terlebih dahulu. Lebih senang lagi saat mengetahui ada beberapa teman yang saya kenal juga menjadi murid di sana. 4 L deh pokoknya! Lu Lagi Lu Lagi 😁

Awalnya kelas ini dijadwalkan untuk dimulai pada akhir Oktober sampai awal November. Tapi kemudian karena suatu alasan, jadwal kelasnya dimajukan menjadi tanggal 21 Oktober. O-ow… Saat itu saya berada di ujung perjalanan kelas menulis artikel, masih ber-One Day One Post juga. Mampukah emak rempong ini mengikuti tiga agenda sekaligus? Bismillah… semoga saya bisa. Maka saya pun mulai duduk manis di sana. Mengikuti kelasnya saat si kecil tertidur dan si kakak sudah beres didampingi belajarnya.

Ada empat kali pertemuan yang harus diikuti. Biasanya saya terlambat masuk kelas, untungnya tidak ada hukuman disuruh berdiri sampai pulang. Hehe… Kelas menulisnya diawali dengan membahas tentang jenis cerita anak. Kisah si Kancil yang legendaris itu termasuk jenis fiksi dongeng yang berbentuk fabel. Kalau terjadinya Gunung Tangkuban Perahu adalah jenis apa, hayo? Lha kok malah tebak-tebakan 🙂 Begitulah, hal-hal paling dasar hingga yang paling sukar yang berkaitan dengan cerita anak dibahas di sini. Alhamdulillah, mentornya sabar menjawab pertanyaan para muridnya. Jadi semakin bersemangat nih belajarnya.

Kelas ini pun mendapat penugasan untuk membuat cerita anak dalam bentuk fabel. Insya Allah, tugas kami itu sekaligus akan dikumpulkan menjadi satu untuk diterbitkan menjadi buku anak di salah satu penerbit mayor. Horeee… eh, selesaikan tugasnya dulu, dong! Alhamdulillah, penugasan menulis ceritanya sudah ditentukan untuk masing-masing murid kelas. Si A bertugas membuat kisah ini dengan tema begini. Si B bertugas membuat kisah itu dengan tema begitu. Menurut saya, hal ini memudahkan bagi para murid yang tinggal mencari sumber informasi dan mengembangkan jalannya cerita.

Batas waktu untuk mengumpulkan tugasnya adalah satu pekan. Ternyata mengembangkan ide cerita menjadi sebuah tulisan dalam tiga halaman lumayan menguras otak juga, hehe… lebay. Alhamdulillah, si kakak memberi sebuah masukan untuk saya dan akhirnya ide itu saya gunakan dalam menulis ceritanya. Saya memang bercerita tentang tugas kelas tersebut kepada si kakak. Ia yang doyan melahap cerita anak tentu saja antusias mendengarnya. Tugas itu pun berhasil saya kumpulkan semalam alias sehari menjelang deadline. What a really Mrs. Deadliner I am 😁

PhotoGrid_1509411053838

Saya belajar tentang sebuah kesederhanaan yang cantik dan pesan moral yang menarik dari menulis sebuah cerita anak. Ya, keduanya adalah dua hal yang harus ada di dalamnya. Cerita anak itu harus ditampilkan dalam bahasa yang sederhana dengan konflik yang sederhana pula sehingga mudah dipahami oleh anak-anak. Pesan moral atau nilai-nilai kebaikan juga harus ada, karena bukankah tujuan kita mendidik anak adalah agar mereka menjadi para pejuang kebaikan kelak? Maka, dengan menulis cerita anak saya diingatkan tentang kesederhanaan dan nilai-nilai kebaikan yang seharusnya ada di dalam keseharian.

 

Salam pecinta anak-anak,

Tatiek Purwanti

⚫⚪⚫⚪⚫⚪⚫⚪

#ODOPOKT29

Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah Indonesia

Duduk Manis di Dua Kelas Menulis (1)

PhotoGrid_1509336193786

Menulis itu bisa dan berhak dilakukan oleh siapa saja. Bukankah semua orang yang memiliki akun sosial media sejatinya menuliskan apa yang dialami, dirasakan, dan dipikirkannya? Tapi tidak semua orang yang menulis lantas disebut sebagai seorang penulis. Seperti profesi lain pada umumnya, untuk memiliki sebutan itu diperlukan niat kuat lalu belajar dan berusaha. Man jadda wajada. Pasti kita semua hapal dan paham artinya.

Ada yang mengatakan bahwa seseorang bisa menulis karena semata ia berbakat. Tapi menurut saya, setelah bakat harus ada aksi lanjutannya. Bakat menulis itu ibaratnya benih di genggaman tangan yang tidak akan tumbuh jika kita tidak mulai menanam, menyiram, dan melakukan perawatan segala rupa. Bakat menulis memang bisa muncul sejak kecil, misalnya karena seseorang didorong orang tuanya untuk gemar membaca. Lantas ia pun terbiasa menuliskan apa-apa  yang telah dibacanya. Tapi banyak juga penulis yang menyadari bahwa ia harus menulis setelah ia dewasa agar ilmu yang sudah melekat tetap terikat, supaya ia bisa mencerahkan sekitarnya, dan berbagai motivasi menulis yang lainnya.

PhotoGrid_1509424840106

Salah satu usaha untuk menjadi penulis yang lebih baik yang pernah saya sebutkan adalah dengan berkomunitas. Dengan berkomunitas, tentu saja saya mengenal banyak penulis lainnya. Mereka berbagi pengalaman, kiat-kiat menulis, info lomba menulis, juga kelas menulis. Nah, yang saya sebut terakhir itu telah dan sedang saya jalani di bulan Oktober ini. Mengapa kelas menulis? Seperti kelas di sekolah pada umumnya, ada mentor alias guru dan tugas yang harus dikerjakan setelahnya. Beda rasanya saat saya belajar sendiri yang kadang ada berleha-lehanya.

1. Kelas Menulis Artikel

Menurut wikipedia, artikel adalah karangan faktual secara lengkap dengan panjang tertentu yang dibuat untuk dipublikasikan (melalui koran, majalah, buletin, dsb) dan bertujuan menyampaikan gagasan dan fakta yang dapat meyakinkan, mendidik, dan menghibur. Maka, mengikuti kelas ini menjadi hal yang wajib bagi saya yang ingin lebih rajin nge-blog, menerbitkan buku, dan mempublikasikan tulisan di media massa.

Kelas yang saya ikuti ini diselenggarakan oleh Joeragan Artikel, sebuah agensi training menulis artikel online. Mentor ‘kuliah umum’-nya adalah Ummi Aleeya yang sekaligus adalah owner-nya. Berbayar? Iya. Cukup dengan 99 ribu rupiah, kita akan dipandu untuk menulis artikel secara mudah. Tempatnya adalah di grup facebook secara tertutup. Ini lebih menyenangkan bagi saya daripada mengikuti kelas di grup WhatsApp. Selain tidak menambah ‘beban’ bagi tablet tua saya, materinya yang berupa e-book berikut penjelasannya pun bisa diakses kapan saja.

IMG_20171030_111216

Dilanjutkan dengan kelas pendampingan dengan membagi peserta ke dalam grup-grup kecil, didampingi mentor kelas andal yang ramah dan sabar. Di kelas ini ada penugasan untuk menulis 3 artikel sebagai syarat kelulusan. Alhamdulillah, saya bisa menyelesaikan PR tersebut dan menyetorkan hasil tulisan melalui e-mail mentor saya, Bunda Enni Kurniasih. Ketiga artikel tersebut di-review dan diberi masukan oleh beliau. Setelah oke, barulah ketiganya diposting ke publik. Dua artikel harus diposting di blog. Satunya lagi diposting di emakpintar.org, sebuah portal untuk emak-emak yang menggaungkan hobi belajar dan ingin produktif dari menulis dan berbisnis.

Alhamdulillah, akhirnya saya lulus juga. Lega. Para lulusan kelas training online tersebut lalu dimasukkan ke grup alumni Joeragan Artikel dan grup ‘Artikel Emak Pintar’. Saat tulisan ini saya selesaikan, saya masih belum masuk di grup Alumni yang menurut info masih mengalami kendala teknis. Sedangkan grup ‘Artikel Emak Pintar’ sudah mulai ramai dengan para emak yang hendak memposting artikel dan di situ dilakukan koreksi oleh para editor terlebih dahulu.

Masih ada satu kelas lagi yang akan saya ulas di tulisan selanjutnya. Fiuhh… Oktober ini memang sesuatu sekali. Ber-One Day One Post sambil jadi murid kelas training menulis online dan duduk manis di sana. 

Salam aktif menulis,

Tatiek Purwanti

⚫⚪⚫⚪⚫⚪⚫⚪

#ODOPOKT28

Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah Indonesia

Menjaga Wibawa Bahasa Indonesia, Bagaimana Caranya?

PhotoGrid_1509244441204

Kemarin, tanggal 28 Oktober diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Kita sebagai anak bangsa pasti sudah hapal di luar kepala isi dari tiga sumpah itu. Jika pun tidak sama persis dengan teksnya, minimal kita mengerti hakikatnya. Pada teks yang ketiga berisi tentang pernyataan para pemuda Indonesia untuk menjunjung tinggi Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Saya jadi teringat sebuah bacaan lama yang bertema hampir sama; menjaga wibawa bahasa Indonesia. Itu bersumber dari wawancara majalah Tarbawi dengan Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. H. Adeng Chaedar Alwasilah, MA, Ph.D. Berikut cara menjaga wibawa bahasa Indonesia menurut pernyataan dari pakar bahasa tersebut.

IMG_20171029_090158

1. Kecintaan pada Bahasa di Jenjang Sekolah Dasar

Anak-anak di Indonesia, apalagi di pedalaman, biasanya menggunakan bahasa daerahnya sejak kecil. Mantapkan saja penggunaan bahasa daerah itu di rumah dan di jenjang sekolah dasar. Sehingga mereka menikmati bahwa belajar bahasa itu mudah, seperti komunikasi yang sehari-hari mereka alami. Pada tahap ini, kebiasaan membaca buku juga sebaiknya sudah menjadi rutinitas harian anak.

2. Penguasaan Bahasa Indonesia oleh Orang tua dan Pendidik

Orang tua harus menyadari bahwa pelajaran bahasa Indonesia di sekolah itu penting dan sebenarnya merupakan pembelajaran dari semua bidang studi. Jangan dianggap enteng, mulailah dari keteladanan di rumah. Karena selain berfungsi sebagai alat komunikasi, bahasa juga berfungsi sebagai alat untuk berpikir dan belajar. Untuk para pendidik, mengajarkan bahasa Indonesia yang baik dan benar bukan hanya tugas dari guru bahasa Indonesia. Bukankah sebenarnya semua guru bidang studi (selain mata pelajaran bahasa lain) juga mengajar menggunakan bahasa Indonesia?

3. Menjadikan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Ilmiah

Orang bisa bangga berbahasa Inggris karena bahasa tersebut adalah bahasa ilmiah, bahasa sains dan teknologi. Bahasa Indonesia pun punya kesempatan yang sama. Penerbitan buku-buku bertema keduanya dalam bahasa Indonesia harus ditingkatkan lagi. Termasuk buku-buku pengantar untuk mahasiswa di semester satu yang biasanya memakai buku teks berbahasa Inggris. Ini menjadi PR bagi para akademisi untuk menulis sendiri buku teks bagi mahasiswanya dalam bahasa Indonesia. Selain kemampuan menulis para akademisi akan teruji, unsur wawasan kebudayaan sendiri pun bisa dimasukkan. Mempelajari bahasa Inggris dan bahasa asing lain itu akan mudah jika kita juga mencintai seluk beluk bahasa kita sendiri.

4. Menulis Segala Hal tentang Indonesia

Bahasa Indonesia berpeluang untuk menjadi bahasa pengantar internasional. Kita bisa memulainya dengan menuliskan segala hal yang menarik tentang Indonesia dalam bentuk artikel di media massa. Biasanya orang asing yang tertarik dengan Indonesian Studies akan mencari informasi tentang itu. Mereka yang ingin mengenal Indonesia, pasti nanti juga ingin mempelajari bahasa Indonesia pada akhirnya.

“Dengan bahasa kita bisa menguasai ilmu dan tanpanya kita akan berada dalam kegelapan (kebodohan).”― Dian Nafi, penulis buku “Mesir Suatu Waktu”

Sumpah yang diucapkan oleh para pemuda dari Jong Java, Jong Celebes, Jong Soemantranen Bond, dan organisasi lainnya telah terekam oleh sejarah. Menjadi tugas kita semua untuk mewujudkan ketiga sumpah itu sesuai kemampuan kita masing-masing, termasuk upaya kita menjunjung bahasa persatuan kita, bahasa Indonesia.

 

Salam cinta bahasa Indonesia,

Tatiek Purwanti

⚫⚪⚫⚪⚫⚪⚫

#ODOPOKT27

Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post

Referensi:

Majalah Tarbawi, edisi 314, tahun 15, terbit 6 Maret 2014

Hari Blogger Nasional dan Nge-blog yang Terpenggal

PhotoGrid_1509131514583

Tanggal 27 Oktober adalah Hari Blogger Nasional yang diperingati sejak sepuluh tahun yang lalu. Sayangnya, saya baru tahu akan hal itu. Duh, malu. Memang ada sebabnya, sih. Walaupun saya sudah mengenal dan punya blog sejak tahun 2010, tapi ‘rumah kedua’ saya itu mati suri. Dan ternyata setelah lebih sering nge-blog lagi, beberapa info terbaru pun saya dapati. Termasuk tentang informasi Hari Blogger Nasional yang menjadi ‘tugas khusus’ pada program One Day One Post di hari kedua puluh enam ini.

Kisah tentang si Rumah Kedua
Saya mengenal blog sejak September 2010. Suami saya sudah terlebih dulu punya blog dan saya belajar darinya. Sederhana saja sih blog pertama saya yang ber-platform blogspot itu. Saya niatkan untuk lebih banyak berlatih menulis di sana dan saya menyebutnya sebagai rumah kedua.

_20171028_021316

Si rumah kedua yang sudah lumutan 😁

Blog itu seharusnya menjadi tempat saya pulang dan menumpahkan segala rasa. Pada kenyataannya, sebagian isinya ada yang meng-copy paste tulisan orang lain. Duh, saya waktu itu tidak tahu adabnya. *tutup muka. Ditambah lagi dengan kehadiran facebook yang saat itu begitu menyita perhatian. Menulis di facebook terasa lebih mudah, kenapa harus susah-susah memposting di blog? Maka saya pun terlena.

Mengenal si Rumah Ketiga
Pada tanggal 12 November 2014 saya mencoba menempati rumah ketiga. Apa itu? Kompasiana, sebuah wadah jurnalisme warga yang menggabungkan konsep blog dan media sosial. Berawal dari browsing dan penasaran ingin menjadi Kompasianer, sebutan untuk blogger di Kompasiana.

_20171028_021857

Postingan pertama saya di Kompasiana, tentang buku antologi pertama

Ada banyak program di sana termasuk kompetisi blog yang hanya bisa diikuti oleh para Kompasianer. Juga blogshop, diskusi bulanan, dan kopdar yang tidak saya ikuti perkembangannya. Saya mah nulis saja niatnya. *anak manis. Total ada empat belas tulisan saya di Kompasiana sampai dengan pertengahan tahun lalu. Jauh sekali dari kata produktif. Kesibukan kerja yang saya jadikan alasannya. *halah… Sering menulis, sih. Sekali lagi… di facebook. Hmm.. Tulisan-tulisan itu tenggelam karena sering tidak saya beri hashtag.

Belakangan saya tahu mengapa saya tidak konsisten menempati rumah kedua dan ketiga saya yaitu karena saya belum menjadi anggota komunitas blogger. Alhamdulillah, akhirnya saya menemukan tiga komunitas blogger termasuk Blogger Muslimah Indonesia. Padahal saya masih anggota baru, tapi segera merasakan atmosfer positif untuk lebih rajin menulis di blog. Kali ini rumah baru saya memakai wordpress gratisan, yang mulai saya isi sejak tahun 2015.

Mengambil Pelajaran dari Dua Perempuan
Tentu saja banyak blogger perempuan yang memberi saya inspirasi. Saking banyaknya, mungkin tidak akan cukup jika ditulis di sini. Maka jika saya menyebut dua orang saja itu karena mereka saya ‘kenal’ di titik tertentu saat saya mulai mengenal blog dan mulai berusaha bangkit lagi.

Ada yang pernah mendengar nama Heather Armstrong? Saya mengetahuinya saat membaca buku tentang seluk beluk blog terbitan tahun 2009. Ia adalah seorang full time blogger dari Amerika, pemilik situs http://www.dooce.com. Heather memperoleh penghasilan dari blognya yang ia bangun sejak Februari 2001 itu. Bayangkan, pengunjung blognya bisa mencapai 850 ribuan dalam sebulan. Maka ia bisa menghidupi keluarganya dari income itu, bahkan saat suaminya harus kehilangan pekerjaan.

Yang menarik dari Heather adalah kedisiplinan dan sikap pantang menyerahnya. Ia yang semula adalah seorang web designer harus menerima kenyataan dipecat dari pekerjaannya. Itu karena dooce.com yang berisi kisah hidupnya juga mengulas tentang orang-orang di tempat kerjanya. Atasan Heather tidak menyukai tulisan-tulisan tersebut dan segera memecatnya. Heather tidak menyerah setelah peristiwa itu. Ia tetap konsisten nge-blog dan akhirnya memetik hasil manis seperti tersebut di atas.

Perempuan yang kedua adalah Teteh Indari Mastuti, CEO-nya Indscript Creative. Saya kira, tidak perlu menjelaskan tentang kiprah beliau di dunia bisnis dan tulis menulis. Keren lah pokoknya. Yang masih menempel di ingatan adalah saat beliau berkata bahwa blog-nya adalah warisan berharga untuk anak-anaknya kelak. Putri sulungnya sudah mulai membaca-baca isi blog yang ditulisnya sejak lama itu. Saya pun membayangkan hal yang serupa pada putri saya yang juga gemar membaca. Maka ini adalah tentang mewariskan ilmu dengan cara yang tidak biasa pada generasi Z seperti dia. Butuh penyajian tulisan dengan baik, penuh hikmah, dan kisah teladan di dalam setiap postingan.

kenali-generasi-z-indonesia--mild--fuad

Sumber: tirto.id

Intinya, saya belajar dari keduanya tentang memberi manfaat lewat tulisan, serta tentang kesabaran dan kedisiplinan. Saya adalah blogger belum apa-apa, tapi ingin tahu apa-apa. Kerja keras untuk meraihnya sedang menunggu dan Hari Blogger Nasional kali ini pun menjadi semacam trigger bagi saya. Dengan tambahan kata ‘Muslimah’ di belakang kata blogger, maka ada tanggung jawab lebih di sana. Bahwa menulis tak sekadar urusan duniawi tapi juga akan terbawa sampai ke negeri akhirat nanti.

 

Selamat Hari Blogger Nasional 2017

Tatiek Purwanti
⚪⚫⚪⚫⚪⚫⚪⚫⚪⚫

#ODOPOKT26
Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah Indonesia