Motor untuk Remaja, Seberapa Perlunya?

PhotoGrid_1508298696723

Suatu pagi di bulan kemarin, terdengar teriakan loper koran menghiasi heningnya kampung saya. Ia menjajakan dagangannya dan menyebut sebuah peristiwa. Saya hapal, jika sampai loper koran masuk ke kampung seperti itu artinya ada kejadian ‘penting’ menyangkut penduduk di sekitar saya. Beberapa waktu sebelumnya saat terjadi kasus pedofilia yang menimpa anak kampung sebelah, si loper juga melakukan hal serupa. Nah, kalau sekarang ada kasus apa?

Semakin dekat, suara si loper semakin jelas terdengar. Akhirnya saya paham bahwa ia sedang menyebut peristiwa kecelakaan yang menimpa cucu tetangga saya di ujung kampung sana. Walaupun saya sudah mendengar kronologinya dari mulut ke mulut, rasanya akan lengkap jika saya juga tahu liputan jurnalistiknya. Maka koran lokal Malang itu pun segera berpindah ke tangan saya setelah saya membayarnya. Si loper berlalu dengan riang, saya mulai mencari-cari berita yang dimaksud.

“Laka Tunggal, Satu Tewas”. Begitu judul berita di halaman 19 yang memuat peristiwa cucu tetangga saya itu. Saya menghela napas, lagi-lagi peristiwa kecelakaan karena motor yang menimpa remaja. Ya, cucu tetangga saya yang berusia 17 tahun itu mengalami luka serius sehingga harus dirawat di UGD Puskesmas kecamatan sebelah. Sementara teman akrabnya yang masih berusia 14 tahun harus kehilangan nyawa, meninggal di tempat kejadian karena cedera di kepala. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Sehari sebelumnya, ia membonceng temannya dan tidak dapat mengendalikan laju motornya sehingga menabrak pembatas tengah jalan raya. Teman yang diboncengnya itu terlempar dan kepalanya terbentur dengan keras.

Mengutip laman otomania.gridoto.com pada Oktober tahun lalu, remaja adalah kelompok umur yang paling sering mengalami kecelakaan lalu lintas. Disebutkan bahwa rentang usianya adalah antara 15-19 tahun dengan mengendarai kendaraan beroda dua atau sepeda motor. Kombes Pol, Korlantas Polri, Unggul Sedyantoro mengatakan, “80 persen kecelakaan sepeda motor, terlibat jenisnya paling banyak adu banteng. Selain itu, karena kurang sempurna saat ingin mendahului, dan kurang waspada saat manuver.” Menurutnya, itu adalah gambaran masih buruknya cara berkendara dan perlu ada pembinaan.

Menurut pengamatan saya, ada beberapa hal yang menyebabkan remaja tergoda atau bahkan keranjingan naik motor. 

1. Pengaruh lingkungan

Pada awalnya, mungkin si remaja tenang-tenang saja dibonceng motor oleh orang tuanya. Tapi bisa jadi ia tergiur untuk memiliki motor sendiri saat menyaksikan teman-temannya berseliweran menaiki si kuda besi. Enggak bisa naik motor? Enggak gaul, dong!

2. Jarak Sekolah yang Jauh

Sudah lazim saya saksikan remaja yang duduk di bangku SMP pun berani ke sekolah dengan naik motor sendiri. Jarak yang tidak mungkin ditempuh dengan jalan kaki menjadi alasannya. Angkot banyak juga, sih. Tapi ngetem-nya itu lho. Mana tahan!

3. Pembiaran Orang Tua

Mungkin maksud para orang tua yang membiarkan anaknya berkeliaran sendiri dengan motornya adalah agar si anak mandiri. Malu dong, udah gede kok diantar enyak-babe 😅

4. Mager alias Malas Gerak

Pernah saya berpapasan dengan seorang anak muda yang mengendarai motor menuju deretan toko di pinggir jalan. Jawabnya: ingin membeli pulsa. Padahal jarak rumahnya dan toko tersebut kira-kira 300 meter saja. Saya yang sedang berjalan kaki hanya geleng-geleng kepala.

5. Terpaksa

Ada kalanya si remaja terpaksa mengendarai motor karena berada dalam kondisi darurat. Misalnya: ia harus menjadi tulang punggung keluarga lalu berdagang ke tempat-tempat jauh dengan menaiki motor bututnya.

Lalu Sebaiknya Bagaimana?

Dari keseluruhan alasan yang saya sebutkan di atas, harus kita kembalikan dulu kepada peraturan yang berlaku. Bukankah syarat seseorang untuk berkendara itu harus memiliki SIM? Jika tidak memilikinya tetapi berani berlaga di jalan raya, kesimpulannya jelas: ia salah.

Saya masih ingat saat masih bekerja dulu, ada razia yang ditujukan untuk remaja di bawah umur yang saat itu berlalu lalang di jalan raya dengan motor mereka. Saat itu tengah marak berita tentang anak artis yang masih remaja yang menabrak orang dengan mengendarai mobilnya. Hmm, biasanya jika ada kejadian barulah ada tindakan. Seharusnya razia seperti itu rutin dilakukan, bukan? Hingga saat ini saya masih sering melihat anak-anak berseragam SMP berseliweran dengan motor mereka di jalan raya. Bebas-bebas saja. Saya kira, mereka belum berusia 17 tahun, deh.

Anjuran seorang kepala daerah agar anak disekolahkan dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari rumah bisa menjadi pertimbangan orang tua. Juga ada yang meyediakan bus sekolah gratis sebagai sarana pergi ke sekolah. Kedua kebijakan itu bisa meminimalisir kemungkinan remaja menuju sekolahnya dengan bermotor ria. Tentu saja tidak ada larangan bagi orang tua untuk menyekolahkan anaknya dimana saja. Tapi jika akhirnya jarak sekolahnya jauh dan masih duduk di tingkat SMP, sebaiknya orang tua bersedia mengantar jemputnya. Memakai angkot atau bus sebenarnya juga masih jadi pilihan andalan. Beberapa anak tetangga saya tetap memilih ‘cara konvensial’ itu dan sejauh ini mereka oke-oke saja.

Mengendarai motor tidak hanya sekedar menggeber gas, tapi juga ada rem yang harus difungsikan maksimal. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala tiap kali disalip oleh si remaja yang kencang sekali mengendarai motornya. Wuzzz… bablas angine! Maka jika angka kecelakaan pada remaja masih tinggi, tidakkah itu karena kontrol emosi mereka yang belum matang? Jika merujuk pada konsep aqil baligh yang merupakan tugas orang tua, seharusnya remaja sudah mencapai aqil-nya saat baligh-nya tiba. Jika akalnya belum matang atau belum sempurna, jangan coba-coba melepasnya sendirian di jalan raya. Tidak hanya membahayakan diri si remaja tapi juga orang lain di sekitarnya.

Semoga kita sebagai orang tua bisa menjadi lebih bijaksana dengan melihat fenomena ini. Sebagaimana pisau yang bermanfaat tapi juga bisa menyayat, maka membiarkan anak remaja bermotor belum tentu akan terlihat hebat. Berikan izin pada anak remaja kita di saat yang tepat. Sebelum kita menyesal dan semuanya terlambat.

Salam orang tua bijak,

Tatiek Purwanti

⚫⚪⚫⚪⚫⚪⚫⚪

#ODOPOKT16

Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah Indonesia

Referensi:

https://otomania.gridoto.com/read/038173/remaja-paling-sering-kecelakaan-lalu-lintas

Iklan

15 Hari Mencari Cinta pada One Day One Post

PhotoGrid_1508192904696

Pada bulan Agustus 2017 yang lalu, email saya selalu menerima notifikasi dari sebuah blog yang saya ikuti. Saya memang mengikuti blog seorang blogger beken karena menurut saya isinya bagus dan berkualitas. Ditambah dengan kehadiran pos baru blognya setiap hari, saya semakin terkagum-kagum. Di setiap  akhir tulisan beliau ada catatan bahwa tulisan itu sedang diikutkan program One Day One Post (ODOP)-nya Blogger Muslimah Indonesia. Saya yang masih newbie di BMI jadi bertanya-tanya: kok bisa sih mendapat ide menulis setiap hari?

Sebenarnya pada bulan itu saya juga sedang menulis setiap hari untuk mengikuti lomba novel. Menang? Tidak, hehe… Tapi saya tetap merasakan sebuah sensasi yang luar biasa. Ternyata menulis setiap hari itu asyik juga. Alhamdulillah, ternyata saya bisa menyelesaikan novel itu dalam waktu sembilan belas hari. Maka, target saya selanjutnya adalah sedikit melakukan revisi dan berusaha menerbitkannya walaupun via jalur indie. Lalu saya juga berpikir, saya akan mencoba ikut jika kelak ada program ODOP lagi.

Setelah bulan September kemarin mencurahkan isi hati pada program Postingan Tematik (PosTem) bertema membaca dan menulis, maka awal bulan ini saya memberanikan diri untuk mengikuti ODOP. Jujur, sebenarnya lumayan berat bagi saya  karena mayoritas waktu saya untuk membersamai si kecil. Tapi saya berpikir lagi, jika itu adalah sebuah hambatan maka saya akan menjadikannya jembatan. Bismillah…

Maka inilah catatan ringan saya seputar ber-ODOP selama setengah bulan ini:

1. Membuat list ide tulisan

Saya mencatatnya di block note yang biasa saya gunakan untuk membuat to do list bulanan. Setiap kali terlintas ide tulisan, langsung saya catat di sana. Ini sangat membantu saya agar tidak lupa hal-hal yang akan ditulis. Walaupun pada praktiknya, apa yang saya tuangkan dalam blog tidak berurutan dengan list yang saya buat.

2. Lebih memilih tablet

Saya terbiasa ngeblog dengan menggunakan tablet tua kesayangan karena lebih praktis daripada harus menyalakan laptop. Saat si kecil tidur siang, saya berusaha menulis sedikit. Seringnya sih ia hanya tertidur sebentar. Maka ‘mencuri waktu’ adalah salah satu cara saya agar bisa menuangkan ide secepatnya.

3. Memikirkan hal sekecil apapun

Karena ada target menulis setiap hari, maka saya menjadi lebih banyak menimbang-nimbang setiap ada kejadian; bisa enggak nih jika diangkat menjadi tulisan? Contohnya fiksi mini saya yang berjudul Menunggumu. Itu terinspirasi dari kejadian nyata saya sehari-hari.

4. Membuka lagi bacaan lama

Seperti yang sama-sama kita amini bahwa menulis itu menghajatkan banyak membaca. Saya jadi terdorong untuk membuka-buka buku atau majalah lama. Alhamdulillah, ternyata ada beberapa ide tulisan yang bersumber dari situ.

5. Mengaktifkan kembali twitter

Saya mulai nge-twit sekitar dua tahun yang lalu. Kemudian lama off dari dunia per-twitter-an ketika si adek hadir ke dunia. Mengikuti ODOP membuat saya harus memulai cuitan saya lagi sesuai saran Ibu PJ. Siapa takut 🙂

6. Berpikir untuk migrasi ke blog berbayar

Walaupun blog kedua saya ini ‘berdiri’ sejak 2014, tapi saya hanya menulis sesekali saja. Maka saat bertekad untuk lebih rajin ngeblog, saya jadi berpikir untuk beralih ke Top Level Domain. Ini didorong oleh himbauan Ibu PJ dan tulisan beberapa teman. Insya Allah, disegerakan.

7. Niat untuk belajar dan berdakwah

Bagi saya ODOP adalah sarana belajar menulis yang membutuhkan konsistensi dan kemauan yang kuat. Ya, murni belajar karena walaupun menulis setiap hari tetapi tidak ada honornya 😀 Ini juga mengajarkan saya bahwa menyampaikan hikmah dan kebaikan bisa dilakukan dengan berbagai cara, termasuk melalui tulisan. Bukankah jika isi tulisan kita baik dan  bermanfaat, maka itu termasuk berdakwah juga?

8. Jalan-jalan tetapi tidak perlu keluar rumah

Memang ada ya? Ada dong. Blog walking! Dengan mengikuti ODOP ini, saya mendapat limpahan ilmu melalui tulisan-tulisan hasil karya teman-teman sendiri. Beda rasanya jika membaca tulisan hasil copas 😉 Walaupun harus saya akui, saya cukup tersengal-sengal melakukan blog walking ini. Maafkan ya, teman-teman. Masih ada lima belas hari lagi untuk berjalan-jalan lebih rajin lagi.

9. Mencari cinta

Cinta selalu membutuhkan pengorbanan dan pembuktian. Ber-ODOP memang membuat saya harus banyak berkorban waktu, tenaga, dan pikiran. Saya jadi membayangkan para jurnalis yang setiap hari dikejar-kejar deadline. Juga semakin menghargai para penulis yang kadang pekerjaannya diremehkan karena tidak terlihat di permukaan. Padahal di balik layar itu juga ‘wow’ rasanya. Semoga pencarian atas cinta ini akan terus berlangsung walaupun ODOP berakhir nanti.

Saya baru menempuh setengah perjalanan. Masih ada 15 hari lagi yang harus saya isi. Sejauh ini sih masih asyik-asyik aja. Sambil mengasuh si kecil dan mendampingi belajar si kakak, saya mengambil sumber tenaga dari event-nya Blogger Muslimah Indonesia ini. Hari-hari pun terasa lebih ceria. Alhamdulillah 🙂

Salam cinta,

Tatiek Purwanti

⚪⚫⚪⚫⚪⚫⚪⚫⚪⚫

#ODOPOKT15

Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah Indonesia

Mengunjungi Giant Ekstra Kebonsari

images (24)

Sumber: google

Kebersamaan keluarga di akhir pekan merupakan salah satu  anugerah terindah untuk keluarga LDR seperti kami. Biasanya kami mengisinya dengan berkegiatan bersama-sama, baik di dalam atau di luar rumah.

Jika harus di dalam rumah, kami pun tetap bisa bergembira. Suami saya berpedoman walaupun hanya bercanda dengan anak istri pun bisa mendatangkan pahala dan rahmat-Nya. Bukankah hadits yang diriwayatkan oleh An-Nasai menyebutkan bahwa bercanda dengan istri termasuk satu dari empat hal yang tidak sia-sia? Tiga hal yang lainnya adalah ‘pekerjaan berat’ seperti melatih kuda, memanah, dan berlatih renang. Wallahu a’lam.

Saat berkegiatan di luar rumah, tentunya kami niatkan untuk ‘bercanda’ juga (baca: meningkatkan keharmonisan keluarga). Dan tujuan kami pekan lalu adalah mengunjungi Giant Ekstra Kebonsari yang baru dibuka sekitar tiga pekan sebelumnya. Selain karena jaraknya yang cukup dekat dengan rumah kami, tentunya kami pun ingin tahu juga suasana di dalamnya seperti apa.

PhotoGrid_1508135910190

Jarak dari rumah kami ke daerah Kebonsari

By the way, kami bukanlah keluarga pecinta shopping di pusat perbelanjaan tapi juga tidak anti mall. Kami memilih berada di tengah-tengah saja. Saat ada viral tulisan ajakan berbelanja ke warung tetangga, saya tentu saja menyetujuinya. Lha wong kebutuhan keluarga sehari-hari, saya dapatkan di pasar tradisional yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari rumah.

Ya, kami tidak anti mall. Maka sesekali kami pergi ke sana juga. Paling sering sih berbelanja kebutuhan rumah tangga. Dan khusus Giant, memang ia menjadi salah satu tujuan ‘wajib’ kami. Tak lain karena setiap tahun ada jatah voucher belanja dari perusahaan tempat suami bekerja. Maka keberadaan Giant Ekstra yang baru dilaunching ini kami syukuri karena kami tidak perlu jauh-jauh lagi ke pusat kota jika ingin mencairkan vouchernya. Alhamdulillah 🙂

Perlu waktu sekitar lima belas menit untuk sampai ke sana. Saya kira lahan parkirnya cukup luas dibandingkan dengan mall-mall yang lebih dulu dibangun di tengah kota. Sejauh ini, biaya parkirnya masih gratis. Hanya cukup menunjukkan STNK dan akan dicatat oleh sekuriti, lalu diberikan karcis sebagai tanda bukti.

Kami masuk melalui pintu sebelah kiri. Di situ berjajar gerai food court yang menggoda selera. Sebelum berbelanja, kami memang berniat untuk nguliner di salah satu gerai. Si kakak memilih “Nasi Goreng 69” yang lumayan luas space-nya. Saya menyetujuinya karena logo halal MUI berikut nomornya terpampang dengan jelas. Gerai ini bersebelahan dengan arena permainan Terrazone yang ramai dikunjungi anak-anak.

IMG_20171014_110631

Sambil menunggu pesanan, si kakak baca buku dulu. Kebiasaannya setiap bepergian

Karena ada si kecil, saya dan suami bergantian menjaganya. Beliau dan si kakak terlebih dahulu makan, sementara saya mengajak si kecil menengok ke bagian belakang gerai yang terhubung dengan lahan parkir bagian belakang. Ia tampak senang mengamati lalu lalang kendaraan yang hilir mudik silih berganti, sambil nyemil bekal yang saya bawakan untuknya.

IMG_20171014_110757

Nasi Goreng Kabita ala Nasi Goreng 69

Ketika giliran saya untuk menyantap Nasi Goreng Kabita, si Abi dan kakak mengajak adek untuk menyewa mobil-mobilan yang bisa dinaiki dan dikendalikan dengan remote. Senangnya mereka. Sementara saya menghabiskan menu pesanan itu. Saya memberi rate 4 of 5 untuk rasa nasi goreng itu.

IMG_20171014_112706

Puas dengan permainan di Terrazone, kami menaiki eskalator menuju lantai atas. Di sanalah Giant Ekstra berada. Puluhan troli belanja menunggu dan kami memilih troli lucu yang bagian depannya ada mobil mini yang bisa dinaiki si kecil. Suasana di dalam pasar modern itu lumayan ramai karena memang ada promo besar-besaran. Dan itulah salah satu tujuan saya memilih ke sana. Maklum emak-emak. Jika ada barang yang berharga murah, ayo aja. Hehe…

IMG_20171014_115947

Tidak banyak yang kami beli. Edamame termasuk yang wajib beli di keluarga kami karena merupakan cemilan favorit keluarga. Sekitar satu jam kami berjalan-jalan di dalamnya,  lumayan menyehatkan kaki. Stok barangnya cukup lengkap, banyak diskon, dan sedang digelar undian juga dalam rangka launching mereka.

PhotoGrid_1508129735440

Puas berbelanja di situ, kami pun segera berlalu. Saat menuruni tangga, disambut oleh tulisan besar berisi ucapan terima kasih dalam berbagai bahasa. Nah, manakah yang merupakan bahasa daerah Anda?

Salam hemat berbelanja,

Tatiek Purwanti

⚫⚪⚫⚪⚫⚪⚫⚪

#ODOPOKT14

Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post

 

7 Obrolan Menjelang Haid Pertama si Upik Datang

PhotoGrid_1508039083621


Saya memiliki seorang putri berusia 10 tahun, namanya Afra. Ia sedang menjalani sebuah masa yang tergolong sebagai masa remaja awal. Sebagai ibunya, saya semakin sering membahas seputar menarche atau haid yang pertama. Sebagian ciri pubertas telah ada pada dirinya; pertumbuhan payudara.

Anak saya itu termasuk bertipe visual spasial yang mudah mencerna informasi melalui gambar. Maka salah satu cara saya menjelaskan informasi tentang menstruasi adalah dengan menyodorkannya gambar-gambar. Penampakan rahim, vagina, dan payudara adalah yang kami bahas dengan serius tapi santai. Sebagai ‘sekolah pertama’ baginya, maka saya harus menjadi sosok pertama yang membimbingnya.

Maka ada 7 obrolan kami menuju hari-H yang bisa setiap saat tiba.

1. Jangan lupa membawa pembalut saat di luar rumah
Tentu, sebelumnya saya memperkenalkan berbagai bentuk pembalut yang ada di pasaran. Mulai dari pembalut untuk haid yang berukuran tipis, berukuran tebal, tipis dan bersayap, tebal dan bersayap, pembalut untuk malam hari, dan panty liner.
Menyambut datangnya si haid pertama, saya sarankan untuk membawa panty liner dan pembalut tipis saat di sekolah. Karena siapa tahu datangnya ‘si tamu’ pada saat tidak berada di rumah.

2. Langsung bercerita pada ibunda
Walaupun secara teori sudah disampaikan, bisa saja pada saat terjadi akan ada sedikit keterkejutan. Maka saya katakan padanya untuk segera memberi tahu saya.

3. Rutin mencatat tanggal haid
Mencatat tanggal haid pertama bisa dijadikan patokan kedatangan haid di bulan berikutnya. Walaupun terkadang ada ketidakteraturan haid pada saat awal-awal mengalami. Dalam bahasa yang sederhana, saya juga mengatakan bahwa rutin mencatat tanggal haid akan berguna saat menjadi istri dan ibu nanti.

4. Tak perlu panik jika “tembus”
Jumlah darah haid yang banyak biasanya memang terjadi pada haid-haid selanjutnya. “Tembus” bisa terjadi karena banyak hal, misalnya: darah haid terlalu banyak sementara pembalut yang dipakai berukuran tipis, jumlah darahnya standar tapi pembalutnya bergeser, atau pembalutnya sudah ‘penuh’ tapi tidak segera diganti.
Maka jika momen “tembus” terjadi di sekolah, langkah awal adalah menutupi dengan jaket atau tas. Lalu meminta izin kepada guru untuk ke toilet dan segera mengganti pembalut, celana dalam, dan rok yang dipakai.

5. Memperhatikan asupan makanan

Saya mengatakan jika haid tiba, beberapa reaksi tubuh akan terjadi. Misalnya: mengalami kelelahan, suhu tubuh menurun, kinerja mental melambat, kram perut, dan kembung. Maka penting untuk mulai mengatur pola makan. Mengonsumsi makanan yang tinggi zat besi, sayur-sayuran, buah-buahan, dan ikan dalam jumlah yang cukup bisa menjadi solusi. Juga minum cukup air putih, karena kadang ia lupa jika tidak diingatkan.

6. Ibadah harus semakin rajin
Kadang salat subuhnya ada yang bolong. Maka saat haid tiba nanti, saya katakan bahwa salatnya harus full. Begitu juga jika punya hutang puasa Ramadhan karena haid, harus diganti pada hari-hari yang lainnya. Nasihat yang seperti ini terus saya ulang karena momen mendapatkan haid artinya ia sudah baligh. Segala dosa dan pahala akan dicatat oleh Allah Ta’ala.

7. Lebih berhati-hati dalam bergaul
Si Afra termasuk tipe anak yang mudah bergaul terutama dengan teman sesama cewek. Sejak ia masih di TK, saya memang mengajarkan bahwa berpacaran itu dosa. Tentunya dengan bahasa yang dimengertinya saat itu. Memperkenalkan aturan itu sejak dini membuat saya lebih mudah menerapkan aturan yang selanjutnya. Maka saya katakan bahwa dengan mendapatkan haid ia harus semakin menjaga diri. Ia adalah perempuan yang tidak boleh disentuh sembarangan oleh lawan jenisnya.

Memiliki anak pertama dengan jenis kelamin perempuan memang seru, sekaligus menyenangkan. Saya membayangkan jika saat itu tiba, ia akan segera tumbuh menjadi gadis dewasa dengan cepat. Saya pun akan semakin menua. Maka perbincangan di atas adalah bekal berharga baginya untuk menyambut takdirnya ke depan dengan nyaman.  

***

Salam perhatian,

Tatiek Purwanti

⚪⚫⚪⚫⚪⚫⚪⚫

#ODOPOKT13

Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah Indonesia

[Fiksi Mini] Menunggumu

PhotoGrid_1507955791913

Waiting is boring.
Begitulah yang sering kudengar dari sekitar. Awalnya aku tidak begitu setuju. Karena aku terbiasa menunggu dengan membaca buku-buku.

Maka waktu terasa terlipat. Emosi yang mendesak-desak keluar karena harus menunggu pun seakan tersimpan rapat. Menunggu menjadi sesuatu yang menyenangkan untuk dilalui, karena ada teman duduk paling setia yang menemani.

Bukan berarti aku mendukung ketidaktepatan janji, bukan. Tentu saja sebaiknya perjanjian itu tetap dilaksanakan pada waktu yang telah ditentukan. Sedikit selisih waktu jika ada alasan yang dibenarkan, bolehlah ada pemakluman. Kecuali jika yang ditunggu selalu ngaret berkali-kali yang menunjukkan ketidakdisiplinan diri. Nah, segera tegur saja dia. Karena kita juga punya waktu yang berharga.

Tapi edisi menunggu kali ini sedikit berbeda. Sudah tiga novel  tebal yang kulalap habis, tapi yang kutunggu tak muncul juga. Aku baru menyadari betapa berharga kehadirannya. Walaupun banyak orang yang seakan memandang sebelah mata padanya.

“Mas Amran kok belum datang?” tanya tetanggaku kemarin.
“Entahlah, Mbak. Tidak seperti biasanya,” jawabku.

Mas Amran, wajahnya biasa-biasa saja. Penampilannya pun ala kadarnya. Tapi kali ini aku benar-benar menunggunya.

***

Sinar matahari sudah agak tinggi. Agenda memasakku sudah berakhir pagi-pagi tadi. Dan sekarang aku sudah menyelesaikan novel keempatku. Kulihat lagi di sekitar pagar depan rumahku, masih sama seperti tiga hari yang lalu. Ah, andai saja aku punya nomor ponsel Mas Amran. Aku akan…

Tiba-tiba sebuah motor beroda tiga muncul dari ujung jalan kampung. Aku bernapas lega. Akhirnya. Motor bercat biru itu berhenti sebentar-sebentar di depan setiap rumah. Sebentar lagi ia akan bergerak ke sini. Aku buru-buru keluar menyambutnya.

“Kemana aja, Mas?” sapaku.

“Wah, Mbak orang kesepuluh yang bertanya itu,” jawabnya sambil terkekeh.

“Istri saya melahirkan, eh anak saya sakit juga. Lha teman pengganti saya juga sedang tidak enak badan,” jelasnya.

“Maafkan ya, Mbak,” tambahnya seraya mengambil tumpukan sampah yang berderet di dekat pagar rumahku.

Aku mengangguk maklum. Ah iya, aku benar-benar lupa kalau istrinya sedang hamil tua. Besok jika ia ke sini lagi, akan kutitipkan sebuah bingkisan untuk bayi mereka. Untuk pahlawan lingkungan sepertinya, seharusnya memang ada hadiah kecil walaupun mungkin sederhana.

***

#ODOPOKT12

Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah Indonesia

Anda Menjelang 40 Tahun? Perhatikan 3 Fakta Ini

PhotoGrid_1507856593911

Kita pasti sudah sering mendengar sebuah quote yang berbunyi “Life begins at forty”. Walter B. Pitkin, seorang psikolog berkebangsaan Amerika, mempopulerkan kata-kata itu sebagai judul bukunya yang terbit pada tahun 1932. Hingga hari ini, banyak manusia yang percaya bahwa kehidupan mereka baru benar-benar dimulai pada usia 40 tahun.

Sebenarnya apa yang terjadi pada manusia di usia tersebut? Berikut adalah fakta-fakta tentang usia 40 tahun yang perlu kita ketahui.

1. Fakta Psikologi
Elizabeth Hurlock dalam bukunya yang terkenal, “Developmental Psychology” atau Psikologi Perkembangan menyebut usia 40-50 tahun sebagai usia madya dini yaitu usia pertengahan yang paling awal. Usia yang merupakan masa transisi, saat masa muda sudah dilewati. Tapi untuk disebut tua juga seakan berat rasanya.

Usia dengan rentang waktu seperti di atas memang rawan stres. Hurlock menyebutkan 4 jenis stres saat manusia mulai berkepala empat, yaitu:

a. Stres Somatik
Penyebab stres ini karena seseorang merasa kebugaran dan kondisi fisiknya sudah banyak mengalami perununan, tidak seprima dulu.
b. Stres Budaya
Beberapa budaya yang dianut di masyarakat menjunjung tinggi masa muda, karena di masa itulah seorang manusia masih perkasa dan saat yang tepat untuk meraih kesuksesan.
c. Stres Ekonomi
Kondisi perekonomian keluarga yang dianggap menentukan derajat status sosial seseorang di masyarakat.
d. Stres Psikologis
Mungkin diakibatkan oleh kematian atau perceraian suami atau istri, kepergian anak dari rumah, kebosanan terhadap perkawinan, atau rasa hilangnya masa muda dan mendekati ambang kematian.

2. Fakta Neurosains
Awalnya para ilmuwan meyimpulkan bahwa kesempurnaan pertumbuhan sel otak terjadi pada usia 20 tahun. Tapi hasil penelitian terkini menunjukkan bahwa sel otak manusia akan terus berkembang sampai akhir usia 40 tahun.

Pada harian Telegraph terdapat sebuah artikel dengan judul Brain only fully ‘matures’ in middle age. (Pertumbuhan otak akan terus berlangsung sampai separuh usia). Isi di dalam artikel tersebut menyebutkan: “You might think that you become fully mature when you turn 21 but new research suggests that your brain does not stop developing until your late 40s.”

Penelitian itu menegaskan bahwa wilayah yang terus bertumbuh dalam diri manusia adalah sebuah organ yang terletak di bagian depan otak yang disebut prefrontal cortex. Di dalam istilah bahasa Indonesia, bagian ini disebut ubun-ubun.

Ini merupakan wilayah yang penting dalam pengambilan keputusan dan interaksi sosial. Juga terkait misi lainnya seperti perencanaan, perilaku, memahami orang lain, dan beragam hal yang menjadi keistimewaan manusia dibanding makhluk yang lainnya.

Profesor Sarah Jayne berkata bahwa setidaknya selama sepuluh tahun terakhir, (awal tahun 2000) penelitian menyimpulkan bahwa otak manusia berhenti berkembang pada anak usia dini. Tapi kemudian setelah dilakukan penelitian lanjutan menggunakan alat scan resonansi magnetik, terjadi perbedaan hasil. Ternyata otak mengalami pertumbuhan terus menerus selama usia 30 sampai kepada usia 40 tahun.

3. Fakta Sejarah dan Alquran
Jauh sebelum dua fakta di atas ditemukan, telah ada fakta bahwa Nabi Muhammad diangkat menjadi rasul di usia 40 tahun. Sebelum mencapai usia tersebut, beliau terus menerus berkontemplasi untuk mencari kebenaran. Beliau terus belajar dari sekitar dan puncaknya adalah sebuah amanah besar, dilanjutkan dengan perjuangan mengagumkan pada 25 tahun ke depannya.

Di dalam Alquran surat Al Ahqaf ayat ke-15 juga disebutkan tentang usia 40 tahun. Bunyi lengkap artinya adalah sebagai berikut: “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri“.

Nah, ketiga fakta di atas berbicara tentang hal yang sama dan berkaitan. Maka bisa kita bayangkan jika sebelum usia 40 tahun kita justru malas-malasan, tidak bergairah untuk belajar dan berkarya. Padahal otak kita dalam kondisi prima untuk menyerap berbagai macam ilmu dan menghasilkan pemikiran atau karya yang bisa saja mengubah keadaan sekitar menjadi lebih baik.

Selamat bekerja, bertumbuh, dan berkarya untuk diri sendiri, keluarga, bangsa, dan agama. Sehingga saat usia 40 tiba, kita bisa menyambutnya dengan bahagia. Lalu setelahnya, kita menjadi sosok yang tidak hanya sekedar menua tapi juga benar-benar bijaksana dan dewasa.

 

Salam bijaksana,

Tatiek Purwanti

⚪⚫⚪⚫⚪⚫⚪⚫⚪⚫⚪⚫

#ODOPOKT11

Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah Indonesia

➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Referensi:
http://www.catatan.vitarlenology.net/2006/09/katanya-life-begin-at-forty.html

Majalah Tarbawi edisi 270, tahun 13, terbit 8 Maret 2012

 

Ayo Bermain dengan Shimajiro!

PhotoGrid_1507780128582

IG: @shimajiroclubid

Sabtu, tanggal 7 Oktober 2017 yang lalu. Hari beranjak siang ketika seorang kurir JNE datang. Saya masih sibuk di belakang, jadi yang menerima paket kirimannya adalah Mbak Afra. Paket yang dikirimkan pun segera berpindah tangan. Mbak Afra menerimanya dan berlari ke arah saya.

Saya mengingat-ingat bahwa sebelumnya tidak pernah memesan dagangan apapun lewat online. Buku yang saya pesan pun masih akan datang November nanti. Lalu itu apa ya? Kok tipis bentuknya?

PhotoGrid_1507793729392

 

“Apa sih ini, Mi?” tanya Mbak Afra sambil menyerahkan paket tipis berukuran kertas folio itu.
Saya menerimanya dan segera teringat sesuatu.
“Oh, ini paket gratis dari Shimajiro,” jawab saya
“Shimajiro?” Mbak Afra bertanya lagi.
“Iya, buat adek. Tapi Mbak Afra nanti boleh ikutan main,” jelas saya.

Putri sulung saya itu pun bersorak, ciri khasnya setiap ada mainan baru buat adiknya. Yes, she is a baby lover. Ia memang sering menemani adiknya bermain. Kedatangan paket gratis itu tentu saja menjadi agenda bermain selanjutnya.

Apa itu Shimajiro?
Paket gratis ini dinamakan “Paket Halo Shimajiro”. Sebuah paket edukasi balita dari Kodomo Challenge. Nah, Kodomo Challenge sendiri adalah sebuah program edukasi berlangganan yang diciptakan oleh Benesse Corporation. Program itu dimulai pada tahun 1988 di Jepang dengan mengirimkan paket edukasi itu ke rumah-rumah pelangganannya setiap bulan.

Jadi paket gratis yang saya dapatkan itu adalah media promosi untuk menarik calon pelanggan. Karena program Kodomo Challenge ini baru akan dimulai di Indonesia pada bulan Juli 2018 yang akan datang. Program tersebut diklaim sukses dijalankan di Taiwan pada tahun 1989, di Tiongkok pada tahun 2006, dan di Korea Selatan pada tahun 2006.

Saya mendapatkan info tentang ” Paket Halo Shimajiro” itu melalui iklan di instagram. Ini berlaku untuk orang tua yang memiliki anak berusia 0-2 tahun. Waktu itu saya tertarik ingin tahu lebih lanjut, apalagi ada kata gratisnya. Hehe… Saya pun mengisi formulir pendaftaran yang ada di situ. Sambil menunggu apakah benar paket gratis itu akan datang dan ternyata terbukti benar.

Isi “Paket Halo Shimajiro”
1. Leaflet dan Product Knowledge
Di halaman awal product knowledge-nya, Kodomo memperkenalkan programnya. Disebutkan tentang pentingnya mengembangkan kemampuan adaptasi pada anak sejak dini. Kuncinya terdapat pada dua hal yaitu kasih sayang orang tua dan lingkungan sekitar untuk mendorong pertumbuhan karakter yang kuat. Anak seharusnya juga mendapatkan banyak pengalaman tentang arti dari “pencapaian” dalam kehidupan sehari-hari, sehingga si anak memiliki kepercayaan diri dan motivasi.

IMG_20171007_134522

Ada penjelasan juga tentang mengapa harus berlangganan. Sepanjang yang saya tahu, paket permainan anak biasanya memang langsung ‘menjadi satu’ dalam jumlah yang banyak sekaligus. Ternyata menurut Kodomo Challenge, paket berlangganan yang akan datang setiap bulan itu adalah cara yang terbaik untuk tumbuh kembang si kecil. Karena programnya disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan usia si kecil. Dengan demikian akan sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembangnya. Menarik menurut saya. Ya, berikan mainan sesuai tingkat usia dan perkembangannya.

2. Boneka Kertas Shimajiro
Sebuah boneka dengan sosok harimau kecil lucu yang terbuat dari karton tebal. Berfungsi untuk melakukan permainan ‘Ciluk Ba’ dan untuk belajar menyuapi makanan.
Setelah kedua tangan boneka dilipat, maka tangannya bisa untuk menutup kedua matanya. Ciluk Baaa! Dan si kecil saya tertawa-tawa.

PhotoGrid_1507793221502

 

3. Berbagai Icon Lucu
Sementara itu untuk melakukan permainan menyuapi makanan, ‘icon’ makanan bulat-bulat itu dimasukkan ke dalam mulut Shimajiro yang memang berlubang. Permainan ini melatih motorik halusnya, juga mengajarkan si kecil bahwa sayur dan buah itu baik untuk kesehatan. Lalu ada ‘icon’ pasta gigi dan sikatnya agar si kecil paham sejak dini bahwa menyikat gigi itu adalah rutinitas untuk menjaga kebersihan gigi dan mulut.

IMG_20171007_134743

4. Tempat Tidur Kertas
Terdapat celah di tengahnya sehingga ‘tubuh’ Shimajiro bisa masuk ke dalamnya dan… Zzzz… Bisa diselingi dengan mengajarkan doa sebelum tidur saat melakukan permainan ini. Juga nasihat ringan bahwa anak kecil seharusnya rutin tidur siang. Si adek melongo saja, hehe. Tapi saya yakin ia menangkap dan merekam apa yang saya ucapkan.

IMG_20171007_135010

Nah, itulah sekilas tentang teman bermain baru anak saya. Walaupun sederhana tetapi menurut saya tetap bermanfaat. Saya belum tahu apakah akan mengambil tawaran berlangganan itu. Besarnya adalah Rp 264.000 x 12 bulan. Saya harus berdiskusi dulu dengan suami.

Menurut saya, ini adalah promosi dengan cara yang cantik. Lalu, adakah paket permainan produksi anak bangsa dengan melakukan ‘pancingan’ gratis yang serupa?

Salam bermain ceria,

Tatiek Purwanti
⚪⚫⚪⚫⚪⚫⚪⚫⚪
#ODOPOKT10
Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah Indonesia